Honeyland – Pelajaran Mulia dari Ibu-Ibu yang Terlupakan

Apa yang kamu pikirkan ketika melihat Ibu-Ibu paruh baya dengan membawa barang banyak di punggungnya? Tentu saja kamu akan acuh melihat Ibu itu sambil melengos, membuang muka, dan pergi begitu saja tanpa memikirkan apa-apa. Tetapi, mungkin suatu hari terbesit keinginanmu untuk mengikuti keseharian sang ibu dan mendapati ternyata beliau adalah seorang yang humanis nan enviromentalis, yang berkerja tidak hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga demi kelangsungan hidup objek pekerjaannya yaitu lebah dan madu. Dengan tagline hidupnya yang dia praktekkan sehari-hari dalam pekerjaannya “Kita ambil setengah, kita kembalikan setengah” Dua orang iseng itu bernama Tamara Kotevska dan Ljubomir Stefanov. Dua orang … Continue reading Honeyland – Pelajaran Mulia dari Ibu-Ibu yang Terlupakan

Ilo Ilo: Hadiah Cantik dari Singapura untuk Perfilman Dunia

Ditulis oleh Anas Sijabat. Sebuah kisah akil balig yang klasik dan dipadukan dengan drama keluarga, Ilo Ilo berusaha menggambarkan konflik yang terpendam dalam masyarakat Singapura yang (katanya) plural. Pertama kali diputar di Festival Film Cannes di tahun 2013 sebagai bagian dari Directors’ Fortnight, film yang disutradarai oleh Anthony Chen inimendapatkan apresiasi di festival film bergengsi tersebut. Film ini berhasil meraih penghargaan Caméra d’Or dan merupakan film produksi Singapura pertama yang berhasil memenangkan penghargaan di Cannes. Berlatarbelakang Singapura yang dilanda krisis ekonomi di tahun 1990-an, cerita ini berfokus pada sebuah keluarga keturunan Tionghoa. Hwee Leng (Yann Yann Yeo) memegang peran sebagai … Continue reading Ilo Ilo: Hadiah Cantik dari Singapura untuk Perfilman Dunia

Bagaimana Bong Jon Hoo Memposisikan Dirinya Sebagai Sineas yang Serba Bisa (Opini)

Parasite (2019) adalah pembuktian sahih sang sutradara mengukuhkan namanya sebagai sutradara jempolan dunia. Namanya bersanding dengan Koreeda, Ken Loach, dan Kurosawa sebagai sutradara yang pernah memenangkan Palem Emas atau bahasa internasionalnya Palm D’or. Menariknya Bong Jon Hoo (BJH) adalah orang Korea pertama yang memenangkan Palem Emas. Bagi para kritikus ini hal yang cukup mengejutkan, bukan Chan Woo Park (The Handmaiden) di tahun 2016, bukan Lee Chang Dong dengan Burning-nya di tahun 2018. Uniknya lagi, Parasite meneruskan jejak The Shoplifters di tahun sebelumnya, menjadikan film Asia menjadi raja di Cannes Film Festival dua tahun berturut-turut. Karir Sang Sutradara BJH memulai karirnya … Continue reading Bagaimana Bong Jon Hoo Memposisikan Dirinya Sebagai Sineas yang Serba Bisa (Opini)

Persembahan Manis Untuk Pecinta Ryuichi Sakamoto

Fukushima 2017, beberapa pekerja sibuk membereskan apa yang barusan saja terjadi. Bencana nuklir yang terjadi di Fukushima membuat para musisi tergerak hatinya untuk berdemonstrasi dan menggelar konser gratis untuk korban dan penyintas di daerah tersebut. Sakamoto, adalah salah satunya, dengan minimalis ia menggelar konser untuk para survival di camp pengungsian. Dibantu oleh satu celloist dan satu violinist. Begitulah cuplikan lima sampai dengan sepuluh menit pertama film ini dibuka. Jika boleh jujur saya bukanlah penikmat film dokumenter. Tetapi, dengan ada embel-embel Ryuichi Sakamoto, niat untuk menonton film ini meningkat 1000%. Mungkin Sakamoto adalah salah satu composer yang paling dikenal oleh para … Continue reading Persembahan Manis Untuk Pecinta Ryuichi Sakamoto

The Carousel Never Stops Turning, Film yang Hanya Berputar-Putar di Situ Saja

  Saya datang dengan ekspektasi tinggi untuk menyaksikan film arthouse The Carousel Never Stops Turning, yang selanjutnya akan disebut Carousel saja, dari sang sutaradara, Ismael Basbeth. Walaupun beliau telah merambah ke film industri lewat Mencari Hilal (2015) dan Arini (2018) tetapi dengan kerendahan hatinya beliau tetap ingin berada di jalur arthouse dengan Carousel yang dirilis tidak jauh dengan Arini, yaitu tahun 2018. Film ini berkisah tentang satu mobil yang digunakan (dan atau telah digunakan) oleh para aktor dengan masing-masing ceritanya. Seorang pekerja kantoran yang frustasi lalu bersenggama dengan mobilnya, seorang istri yang membunuh suaminya dengan kapak yang disimpan di kamar … Continue reading The Carousel Never Stops Turning, Film yang Hanya Berputar-Putar di Situ Saja

Gender and Sexualities in Indonesian Cinema: Constructing Gay, Lesbi and Waria Identities on Screen

Originally posted on kinemata:
Murtagh, Ben. Gender and Sexualities in Indonesian Cinema: Constructing Gay, Lesbi and Waria Identities on Screen. New York, NY: Routledge, 2014. ISBN: 13-978-0415536318. xiv + 216 pp. / Eric Sasono <1> Fluidity of gender construction is often apparent in media and popular culture analysis, and Ben Murtagh’s volume on Indonesian cinema poses the notion against a very interesting backdrop. The volume entitled Gender and Sexualities in Indonesian Cinema: Constructing Gay, Lesbi and Waria Identities on Screen is part of a series “Media, Culture and Social Change in Asia.” In this volume Murtagh offers his analysis of popular films… Continue reading Gender and Sexualities in Indonesian Cinema: Constructing Gay, Lesbi and Waria Identities on Screen

Kelas Singkat Bersama Abbas Kiarostami dan Taste of Cherry

  Abbas Kiarostami adalah guru yang baik. “No mother can do as much for her children as God does for His creatures. You want to refuse all that? You want to give it all up? You want to give up the taste of cherries?” Sebenarnya, gue gatau gimana caranya untuk mengupas masterpiece Kiarostami yang ini. Kalo boleh jujur, ini film kedua dari Kiarostami yang gue tonton setelah Close Up dan lebih ngena ceritanya ke gue. Sama-sama humanis tanpa bermaksud menggurui, tanpa maksain keyakinan Beliau ke penonton, dan tanpa embel-embel mojokin pandangan politik yang lagi anget-angetnya di Iran. Mungkin gini juga … Continue reading Kelas Singkat Bersama Abbas Kiarostami dan Taste of Cherry